Tazkiyatun Nafs

I. MUQODDIMAH

Alhamdulillahi Robbil ‘Alamiin. Segala puji bagi Allah swt. Dialah yang menurunkan ketenangan dan ketentraman pada hati orang-orang yang beriman. Dialah yang telah mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf untuk membacakan ayat-ayat-Nya, mensucikan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah (As Sunnah). Kami bersaksi bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang berhak disembah, tiada sekutu bagi-Nya. Dan kami bersaksi bahwa Muhammad saw adalah hamba dan Rasul-Nya. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat serta hidayat-Nya kepada beliau beserta keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya sampai hari kiamat.
Diantara tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad saw, adalah untuk memberi bimbingan kepada umat manusia dalam rangka tazkiyatun nafs (membentuk jiwa yang suci), sebagaimana firman-Nya :


هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي اْلأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلاَلٍ مُّبِينٍ {2}
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rosul dari golongan mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al Jum’ah : 2)

Karenanya, wajib bagi setiap orang yang mengharapkan pahala dari Allah dan kebahagiaan abadi di hari kemudian untuk memberikan perhatian secara khusus bagaimana agar ia mampu mensucikan diri.
Karena keberuntungan dan kesuksesan seseorang itu dapat diraih tergantung bagaimana ia mau mensucikan dirinya (tazkiyatun nafs), sebagaimana firman-Nya :


قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
“Sesungguhnya telah beruntunglah orang yang mau mensucikan jiwanya.”
(Qs. As Syams : 9)


II. PENGERTIAN TAZKIYATUN NAFS

- Tazkiyah secara bahasa adalah masdar dari kata ( زَكَّى ) yang berarti ( طَهَّرَ ) yaitu , mensucikan.
- Berkata Qotadah dalam menafsirkan ayat : قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
“Sesungguhnya telah beruntunglah orang yang melaksanakan amal kebaikan dan mensucikan nafs (jiwanya) dengan taat kepada Allah”
- Ibnu Katsir dalam tafsir Al Qur’anul Al ‘Adhim menafsirkan ayat
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
dengan perkataan :

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّى نَفْسَهُ بِطَاعَةِ اللهِ وَ طَهَّرَهَا مِنَ الأَخْلاقِ الدَّنِيْئَةِ وَ الرَّذَائِلِِ
“Telah beruntung orang yang mensucikan jiwanya dengan taat kepada Allah dan membersihkannya dari akhlaq yang rendah dan hina.
Agar kita bisa membersihkan nafs (jiwa) kita dari segala macam kekotoran maka terlebih dahulu kita akan membahas masalah nafs (jiwa).


III. PEMBAHASAN MASALAH NAFS

Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah menyebutkan bahwa manusia itu terbagi menjadi dua golongan :
1. Golongan yang terkalahkan oleh nafsunya, sehingga setiap perilakunya dikendalikan oleh nafsunya.
2. Golongan yang mampu mengekang dan mengalahkan nafsunya sehingga nafsu tersebut tunduk pada perintahnya.

Sebagian Arifin (orang-orang yang berma’rifah kepada Allah) menyebutkan :
“Barang siapa yang berhasil mengalahkan nafsunya maka beruntunglah ia, sebaliknya bagi yang terkalahkan oleh nafsunya maka merugi dan hancurlah ia.”
Allah swt telah menyebutkan dalam firman-Nya :

فَأَمَّا مَن طَغَى {37} وَءَاثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا {38} فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى {39} وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى {40} فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى {41}
“Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka nerakalah tempat tinggalnya. Sedangkan mereka yang takut pada kebesaran Rabb-Nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya sorgalah tempat tinggalnya.” (Qs. An Nazi’at : 37 – 41)

A. JENIS -JENIS NAFSU
Allah swt. telah menjelaskan dalam Al Qur’an tentang jenis-jenis nafsu yang dimiliki manusia, yaitu :
- Nafsu Muthmainah
- Nafsu Lawwamah
- Nafsu Amarroh bis Su’

1. Nafsu Muthmainnah
Yaitu nafsu yang tenang bersama Allah, tentram ketika mengingat-Nya dan selalu merindukan-Nya.
Dialah nafs yang disaat ajal menjelang, akan dikatakan padanya :
يَاأَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ {27} ارْجِعِي إِلىَ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَةً {28} فَادْخُلِي فيِ عِبَادِي {29} وَادْخُلِي جَنَّتِي {30}
“Hai nafs (jiwa) yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Qs. Al-Fajr : 27-30)

- Ibnu Abbas r.a. berkata : Muthmainnah artinya yang membenarkan.
- Qotadah berpendapat : Hanyalah orang yang beriman yang jiwanya tenang terhadap apa yang dijanjikan Allah.
- Ibnu Kisan mengatakan : yaitu nafs yang tenang karena mengingat Allah.
Orang yang berjiwa Muthmainnah ini akan tercermin pada perilaku dan raut mukanya. Ia tampak tenang, berseri, penuh keceriaan dan bersabar diri serta menerima setiap cobaan dari Allah dengan lapang dada dan tawakkal. Ia tidak pernah gundah, gelisah dan putus asa bila tertimpa musibah dan tidak juga terlalu bersuka cita bila mendapatkan nikmat dari Allah. Karena ia yakin bahwa semuanya sudah ditaqdirkan oleh Allah swt. Sebagaimana firman-Nya:

مَآأَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ {11}
“Tidak ada satu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya ia akan memberi petunjuk pada hatinya.” (Qs. At Taghobun : 11)

2. Nafsu Lawwamah
Yaitu nafsu yang tidak pernah konsisten atau stabil di atas satu keadaan. Ia seringkali berubah (labil) baik dalam pendirian maupun perilaku. Antara ingat dan lalai, ridho dan marah, cinta dan benci serta taat dan beribadah kepada Allah atau bahkan malah berpaling dari-Nya.
Sebagian ulama berpendapat : bahwa nafsu lawwamah adalah nafs-nya orang-orang yang beriman.
- Al Hasan Al Bashri berkata : “Sesungguhnya orang mukmin mustahil bila tidak pernah sekali saja mencela dirinya. Ia akan berkata pada nafs-nya: Maukah kamu berbuat begini? Mengapa kamu berbuat seperti itu? Seharusnya kamu berbuat begini! Atau ucapan sejenisnya.
- Muqotil menyebutkan : “Ia adalah nafs yang mencela dirinya pada hari kiamat terhadap apa yang telah dilakukannya yang melampau batas dari urusan Allah di muka bumi ini.”
- Imam Ibnu Qoyyim berkata, “Semua pendapat di atas adalah benar.”

3. Nafs Ammaroh bis Suu’
Yaitu nafs yang tercela, sebab ia memiliki watak selalu mengajak ke arah kedholiman, karena memang demikianlah tabi’atnya.
Tidak seorangpun yang terlepas dari watak buruk nafs ini kecuali yang mendapat rahmat Allah swt.
وَلَوْلاَ فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَازَكَى مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُ وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمُُ {21}
“Sekiranya tidak karena Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya. Tetapi Allah membersihkan apa yang dikehendaki-Nya.” (Qs. An-Nur : 21)

Tidak seorang pun yang terlepas dari watak buruk nafsu ini, kecuali yang mendapatkan rahmat Allah swt.
Berkata Ibnu Qudamah dalam kitabnya Mukhtashor Minhajul Qoshidin : “Ketahuilah bahwa musuh bebuyutanmu adalah nafs kamu yang ada di sisimu. Dan telah diciptakan nafs yang menyeru kepada kejahatan, cenderung kepada kejelekan. Engkau telah diperintahkan untuk menghukuminya, mensucikannya dan menceraikannya dari sumber-sumbernya.”

Nafsu Ammaroh ini jika ada pada diri seseorang, maka bisa dipastikan bahwa segala perilaku dan tindakannya akan menyeleweng dari syar’i, maka akhlaqnya pun tercela dimata orang. Nafsu Ammarah selalu menjadi penghalang bagi nafsu Muthmainnah untuk mencapai tingkat kesempurnaan. Setiap kali nafsu Muthmainnah berniat untuk berbuat baik, maka nafsu Ammarah datang menghadirkan impian-impian buruk akibat dari perbuatan itu. Misalnya ia memberikan ilustrasi-ilustrasi dari akibat berangkat berjihad, yaitu bahwa ia akan terbunuh, istrinya akan dinikahi orang lain, anak-anaknya menjadi yatim dan hartanya akan dibagi oleh ahli warisnya dan sebagainya. Maka hendaklah kita selalu memohon perlindungan kepada Allah agar dijauhkan dari nafs tersebut.
Rasulullah saw. sendiri mengajarkan kepada kita dalam setiap khutbah untuk membaca :
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا
“Sesungguhnya segala puji hanya bagi Allah swt, kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Dan kita mohon perlindungan Allah dari kejahatan-kejahatan nafsu dan (akibat ) buruk dari perilaku-perilaku kita.” (HR.Abu Dawud dan Ibnu Majah, shohih.)

B. HUBUNGAN TAZKIYATUN NAFS DENGAN AKHLAQ

Perlu kita ketahui bahwa gerak jiwa dan hati nurani adalah inspirasi bagi hati jasmani yang kemudian diimplementasikan dalam bentuk sikap dan watak manusia. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.
أَلا إِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةٌ إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَ إِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَ هِىَ الْقَلْبُ. رواه البخارى و مسلم
“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh itu ada segumpal daging. Apabila baik, maka baik pulalah seluruh tubuh. Apabila ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuh, ketahuilah ia adalah hati.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Memang segala sifat yang dimiliki oleh jiwa akan meluap keluar dan bekas-bekasnya itu tentu tampak sekali diantara anggota lahiriyah, sehingga anggota-anggota tadi tidak akan bergerak sama sekali melainkan sesuai menurut irodah jiwanya. Ini sudah pasti dan tidak bisa diingkari lagi.
Ibnu Qoyyim Al Jauziyah menyebutkan dalam kitabnya “Igotsatul Lahfan” : Hati adalah raja bagi semua anggota badan. Seluruh anggota badan akan melaksanakan segala perintahnya dan menerima apa saja yang diberikannya. Tidak ada satu perbuatanpun yang bisa terlaksana dengan benar, kecuali jika muncul dari kehendak dan niat hati. Hatilah yang bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya. Maka karena itulah memperbaiki dan meluruskan hati merupakan perhatian utama yang dilakukan orang-orang yang menempuh jalan menuju ridlha Allah.
Lebih jelasnya Abdurrahman Habanakah Al Maidani menyebutkan : Secara tabi’at kapan seseorang itu suci jiwanya, maka akan luruslah akhlaq (perilakunya) baik yang dhohir maupun yang batin.
Meskipun akhlaq karimah itu kadang memang sudah merupakan watak asli (fithrah) seseorang. Namun sebenarnya hal itu dapat diperoleh dan diusahakan dengan jalan latihan, yaitu dengan cara membiasakan untuk melakukan hal tersebut atau dengan jalan pergaulan, yaitu dengan menyaksikan dan berkawan dengan orang yang sholih.
Berikut akan kami uraikan beberapa bentuk akhlaqul mahmudah yang merupakan cermin dari sucinya jiwa. Menghiasi diri dengan akhlaq yang terpuji dan membersihkannya dari akhlaq yang tercela adalah merupakan usaha untuk tazkiyatun nafs (mensucikan jiwa), sebagaimana yang disebutkan Ibnu Katsir rahimahullah dalam menafsirkan ayat :
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
“Telah beruntung orang yang mensucikan jiwanya dengan taat kepada Allah dan membersihkannya dari akhlaq yang rendah dan hina.”
Diantara akhlaq mahmudah tersebut adalah :
1. Ikhlas
2. Sabar
3. Khusyu’
4. Tawadlu
5. Zuhud
6. Itsar

posted under |

0 komentar:

Poskan Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

(PILIHLAH JAWABAN YANG BENAR) 2 x 2 : 2 + 2 - 2 = ...

Sociable

(PILIHLAH JAWABAN YANG BENAR) 2 x 2 : 2 + 2 - 2 = ...

Followers


Recent Comments