Jangan Sampaikan Hadits Dlo'if diatas Mimbar

GALAU HATI KAMI

Bismillah, walhamdulillah, wash shalatu was salamu 'ala Rasulillah, wa asyhadu an lâ ilaha illallah wa anna Muhammadan Rasulullah. Amma ba'du:
Adalah merupakan nikmat Alloh Swt bahwa kami mengerti sedikit ilmu hadits; baik dirayah maupun riwayah. Tidak diragukan lagi bahwa kedua ilmu itu sama-sama penting.
Banyak orang memperhatikan ilmu riwayah hadits namun mengabaikan ilmu dirayah hadits, sehingga terjadilah apa yang sama sekali tidak diharapkan, yaitu banyaknya orang yang menyampaikan hadits dan mengklaim bahwa itu dari Rasulullah saw, sementara mereka tidak mengetahui kebenaran apa yang mereka sampaikan.
Beberapa kali kita temukan khatib jum'at menyampaikan hadits-hadits palsu buatan para pengibul dan pendusta; mereka sampaikan begitu saja tanpa penjelasan bahwa hadits itu adalah produk kibulan para penjahat agama, sehingga para jamaah yang mendengar memahami bahwa hadits kibulan tersebut adalah sabda Nabi saw yang harus dianut dan dijadikan sebagai pedoman.

Para ulama` pakar hadits menegaskan, bahwa pembuat hadits palsu dan penyampai hadits palsu adalah sama kedudukannya. Keduanya sama-sama berdosa karena sama-sama menisbatkan kepada Rasulullah saw sesuatu yang tidak pernah datang dari beliau.
Maka buku kecil ini berusaha meneriakkan kepada semua umat Islam terutama kepada para khatib agar berhati-hati, jangan sampai terjerumus dalam dosa menyampaikan hadits palsu tanpa sadar. Buku ini meneriakkan: "Jangan Sampaikan Hadits Dha'if dan Palsu di Atas Mimbar!" Tentu saja maksudnya adalah: dilarang menyampaikannya tanpa memberikan penjelasan mengenai kepalsuan atau kedha'ifannya, sebab itu termasuk langkah pembodohan terhadap umat Islam dan pelakunya tidak akan mendapatkan pahala bahkan hanyalah mendapat-kan dosa. Sungguh GALAU HATI KAMI bila tidak meneriakkan ini.
Semoga buku ini meskipun tipis dapat mencapai apa yang diharapkan oleh para penulisnya, dan mendapatkan keridhaan di hadapan Alloh Swt. Âmin ya Rabbal 'alamin. Walhamdulillahi Rabbil 'alamin. Sukaharja, 12 Dzul Qa'dah 1429 H

Jihad Kecil dan Jihad Besar

• Lafal Hadits:
" رَجَعْناَ مِنَ الْجِهَادِ اْلأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ اْلأَكْبَرِ " .
"Kita kembali dari jihad terkecil kepada jihad terbesar." HR Baihaqi.

• Keterangan:
Hadits ini banyak disampaikan orang, padahal:
1. Hadits ini mungkar.
2. Al-'Iraqi menulis: "Dalam isnadnya terdapat kelemahan." (Takhrij Ihya` 2/6)
3. Ibnu Hajar menulis: "Hadits ini dari riwayat 'Isa bin Ibrahim, dari Yahya bin Ya'la, dari Laits bin Abi Sulaim, dan ketiga rawi ini dha'if semua. Hadits ini diriwayatkan oleh Nasa`I dalam al-Kuna dari ucapan Ibrahim bin Abi 'Abalah; salah seorang tabi'I yang tinggal di Syam (jadi bukan sabda Nabi saw). (Takhrij Kasysyaf nomor 33)
4. Syaikh Zakariya al-Anshari menukil dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa hadits ini tidak memiliki asal. (Ta'liq 'ala Tafsir Baidhawi 110/1)
5. Menurut Khafaji dalam Hasyiyah 'alal Baidhawi (6/316), "Dalam sanadnya terdapat kelemahan yang dapat ditoleransi." Pendapat ini jelas tidak lurus! Bagaimana mungkin dapat ditoleransi padahal dalam sanadnya terdapat 3 rawi dha'if, dan semua yang memperbincangkan tentang ketiganya telah menyepakai kedha'ifan mereka bertiga.
Hadits di atas diriwayatkan juga dengan lafal:
" قَدِمْتُمْ خَيْرَ مَقْدَمٍ ، قَدِمْتُمْ مِنَ الْجِهَادِ اْلأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ اْلأَكْبَرِ : مُجَاهَدَةُ الْعَبْدِ هَوَاهُ " .
(الزهد " للبيهقي ( 42/1 ) أبو بكر الشافعي في " الفوائد المنتقاة " ( 13/83/1 )
Kalian datang ke tempat yang paling baik; kalian datang dari jihad terkecil kepada jihad terbesar. HR Baihaqi dalam az-Zuhd dan Abu Bakr asy-Syafi'I dalam al-Fawa`id.
1. Sanad hadits ini juga dha'if; di dalamnya terdapat nama Laits bin Abi Sulaim, seorang rawi dha'if karena mukhtalith. Juga terdapat Yahya bin Ya'la, dhahirnya dia adalah Yahya al-Aslami, juga rawi dha'if. Rawi-rawi lainnya tsiqat.
2. Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Khathib (13-523-524), namun dalam sanadnya terdapat Hasan bin Hasyim, yang belum diketemukan biografinya. Juga terdapat Yahya bin Abil 'Ala`, mungkin dia adalah Yahya al-Kadzdzab.
3. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memfatwakan, "Hadits ini tidak memiliki asal, dan tidak diriwayatkan oleh seorang pun dari mereka yang memiliki pengetahuan tentang sabda dan perbuatan Nabi saw. Jihad memerangi orang kafir termasuk amalan paling agung, bahkan jihad adalah amalan paling utama yang dilakukan oleh seseorang secara suka rela." Keterangan beliau ini mengisyaratkan pengingkaran beliau terhadap penamaan jihad melawan kaum kafir dengan nama "jihad terkecil."
(Lihat adh-Dha'ifah nomor 2460)


Dosa Membunuh Mukmin

• Lafal Hadits:

مَنْ أَعَانَ عَلَى قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِشَطْرِ كَلِمَةٍ لَقِيَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مَكْتُوبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ آيِسٌ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ.
Siapapun yang membantu pembunuhan seorang mu`min dengan setengah kalimat saja, niscaya dia kelak berjumpa dengan Alloh 'Azza wa Jalla dalam keadaan tertulis di antara kedua matanya: "Orang yang putus asa dari Rahmat Alloh." HR Ibnu Majah.

• Keterangan:
Hadits ini pernah disampaikan di majlis tafsir malam Selasa di masjid Daman Solo, tanpa dijelaskan bahwa hadits ini dha'if, seolah-olah ustadz yang menyampaikan meyakini bahwa hadits ini shahih, padahal:
1. Hadits ini dha'if.
2. Di dalam sanadnya terdapat Yazid bin Ziyad asy-Syami, menurut Bukhari dia adalah rawi munkarul hadits. Demikian juga menurut Baihaqi.
3. Bila Bukhari menilai seorang rawi mungkarul hadits, maka penilaian ini menunjukkan tidak halalnya meriwayatkan hadits darinya, jadi rawi seperti itu menurut beliau tertuduh.
4. Dzahabi menukil dari Abu Hatim bahwa hadits ini batil dan palsu.
5. Ibnul Jauzi memasukkan hadits ini dalam kitab beliau al-Maudhu'at (hadits-hadits palsu) juz 2 halaman 104.
6. Ahmad menilai, "Hadits ini tidak shahih."
7. Ibnu Hibban menilai, "Hadits ini palsu; tidak memiliki asal dari hadits para rawi tsiqat.
8. Namun Suyuthi mengingkari pendapat Ibnu Hibban ini karena terdapat hadits-hadits syahid yang menunjukkan bahwa hadits ini hanya dha'if; bukan palsu.
9. Hadits ini ditulis oleh Dzahabi dalam al-Kaba`ir dan dia mengatakan, "Diriwayatkan oleh Ahmad." Kami belum menemukan hadits ini dalam Musnad Ahmad. Hanya ditemukan dalam: Sunan Ibni Majah nomor 2620, Uqaili nomor 457, dan Baihaqi 8/22. Wallâhu A'lam wa 'ilmu-Hu atamm.
(Lihat adh-Dha'ifah nomor 503)
10. Terkadang orang bermaksud baik saat menyampaikan hadits ini, namun hadits dha'if tetaplah dha'if meskipun niatan menyampaikannya baik, sehingga tetap tidak dapat dijadikan dalil, dan bila disampaikan maka harus DISERTAI KETERANGAN BAHWA HADITS TERMAKSUD DHA'IF.


Shalat di Awal Waktu dan
di Luar Waktu

• Lafal Hadits:

إِذَا صَلَّى الْعَبْدُ الصَّلاَةَ فِي أَوَّلِ الْوَقْتِ صَعِدَتْ إِلَى السَّمَاءِ وَ لَهَا نُورٌ حَتَّى تَنْتَهِيَ إِلَى الْعَرْشِ فَتَسْتَغْفِرُ لِصَاحِبِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَ تَقُولُ: حَفِظَكَ اللهُ كَمَا حَفِظْتَنِي وَ إِذَا صَلَّى الْعَبْدُ الصَّلاَةَ فِي غَيْرِ وَقْتِهاَ صَعِدَتْ إِلَى السَّمَاءِ وَ عَلَيْهَا ظُلْمَةٌ فَإِذَا انْتَهَتْ إِلَى السَّمَاءِ تُلَفُّ كَمَا يُلَفُّ الثَّوْبُ الْخَلِقُ وَ يُضْرَبَ بِهَا وَجْهُ صَاحِبِهَا وَ تَقُولُ ضَيَّعَكَ اللهُ كَمَا ضَيَّعْتَنِي " .
Bila seorang hamba melakukan suatu shalat (fardhu) di awal waktunya, shalat itu pun naik ke langit dalam keadaan bersinar terang hingga sampai ke Singgasana Alloh, lalu dia memintakan ampunan untuk pelakunya hingga hari kiamat, dan ia berkata, "Semoga Alloh menjagamu sebagaimana Anda telah menjagaku."
Namun bila seorang hamba melakukan suatu shalat di luar waktunya, maka shalat itu pun naik ke langit dalam keadaan gelap, lalu bila telah sampai ke langit maka ia dilipat sebagaimana baju yang usang dilipat, dan dia dipukulkan ke wajah pelakunya sambil mengatakan, "Semoga Alloh menyia-nyiakan kamu sebagaimana kamu telah menyia-nyiakan aku." HR Thayalisi, Bazzar, Baihaqi dalam asy-Syu'ab, dan Khathib.

• Keterangan:
1. Hadits ini dinilai dha'if oleh Syaikh al-Albani dalam Dha'iful Jami'is Shaghir nomor 400.
2. Jangan terkecoh dengan penukilan Syaikh Dzahabi akan hadits ini dalam kitab beliua al-Kaba`ir (halaman 22), sebab kitab beliau ini memang memuat banyak hadits dha'if bahkan hadits palsu. Beliau memuat hadits-hadits tersebut secara sadar bahwa itu adalah hadits dha'if atau palsu. Beliau melakukan itu karena di masa beliau dulu banyak orang yang dapat memilah-milah mana hadits yang shahih dan mana yang dha'if dan palsu. Adapun di masa sekarang, sungguh sangat disayangkan banyaknya khatib-khatib yang dengan entengnya menyampaikan "Rasulullah saw bersabda begini dan begitu" namun dia tidak sadar bahwa yang disampaikannya adalah hadits yang sangat dha'if bahkan maudhu'.
3. Maka  sebaiknya bila Antum membaca buku atau kitab yang memuat hadits-hadits campuran, pilihlah kitab yang dilengkapi dengan takhrij haditsnya sehingga kita tahu apakah hadits yang kita baca dapat dipakai ataukah tidak. Wallâhu A'lam wa 'ilmu-Hu atamm.


Ancaman Keras Bila Meninggal-kan/Meremehkan Shalat


• Lafal Hadits:

" إن من حافظ على الصلوات المكتوبة أكرمه الله تعالى بخمس كرامات يرفع عنه ضيق العيش وعذاب القبر ويعطيه كتابه بيمينه ويمر على الصراط كالبرق الخاطف ويدخل الجنة بغير حساب " . ومن تهاون بها عاقبه الله بخمس عشرة عقوبة خمس في الدنيا وثلاث عند الموت وثلاث في القبر وثلاث عند خروجه من القبر فأما اللاتي في الدنيا فالأولى ينزع البركة من عمره والثانية يمحي سيماء الصالحين من وجهه والثالثة كل عمل يعمله لا يأجره الله عليه والرابعة لا يرفع له دعاء إلى السماء والخامسة ليس له حظ في دعاء الصالحين وأما اللاتي تصيبه عند الموت فإنه يموت ذليلاً والثانية يموت جائعاً والثالثة يموت عطشاناً ولو سقي بحار الدنيا ما روي من عطشه وأما اللاتي تصيبه في قبره فالأولى يضيق عليه قبره حتى تختلف فيه أضلاعه والثانية يوقد عليه القبر ناراً يتقلب على الجمر ليلاً ونهاراً والثالثة يسلط عليه في قبره ثعبان اسمه الشجاع الأقرع عيناه من نار وأظفاره من حديد طول كل ظفر مسيرة يوم يكلم الميت فيقول أنا الشجاع الأقرع وصوته مثل الرعد القاصف يقول أمرني ربي أن أضربك على تضييع صلاة الصبح إلى طلوع الشمس وأضربك على تضييع صلاة الظهر إلى العصر وأضربك على تضييع صلاة العصر إلى المغرب وأضربك على تضييع صلاة المغرب إلى العشاء وأضربك على تضييع صلاة العشاء إلى الصبح. فكلما ضربه ضربة يغوص في الأرض سبعين ذراعاً فلا يزال في الأرض معذباً إلى يوم القيامة. وأما اللاتي تصيبه عند خروجه من قبره في موقف القيامة فشدة الحساب وسخط الرب ودخول النار.
Sesungguhnya orang yang menjaga (waktu-waktu) shalat maktubah, niscaya Alloh memuliakannya dengan 5 karomah, yaitu: 1-2) Alloh mengangkat darinya kesempitan hidup dan siksa kubur. 3) Alloh memberikan catatan amalnya dengan tangan kanan-Nya 4) Alloh melewatkannya di atas shirath secepat kilat yang menyambar 5) Alloh memasukkannya ke dalam jannah tanpa dihisab.
Siapapun yang meremehkan shalat, niscaya Alloh membalasnya dengan 15 balasan; 5 di dunia, 3 saat mati, 3 saat di kuburan, dan 3 saat keluar dari kuburan.
Adapun 5 yang di dunia, yaitu: 1) Alloh cabut keberkahan dari umurnya (riwayat lain: dari rizkinya). 2) Alloh hapus tanda kesalihan dari wajahnya. 3) Setiap amalan yang dia kerjakan tidak diberi pahala oleh Alloh. 4) Doanya tidak diangkat ke langit. 5) Dia tidak mendapatkan bagian dari doa kaum shalihin.
Adapun 3 yang menimpanya saat mati yaitu: 1) Dia akan mati dalam keadaan terhina. 2) Mati karena lapar 3) Mati karena kehausan. Seandainya pun dia diberi minum dengan air laut-laut yang ada di dunia niscaya tetap tidak dapat puas karena sangat dahsyat dahaganya.
Adapun 3 yang menimpanya saat di kuburan yaitu: 1) Kuburannya menghimpitnya hingga tulang-tulang rusuknya rusak parah. 2) Di dalam kuburnya dinyalakan api dan dia membolak-balik tubuhnya di atas bara api siang dan malam. 3) Dalam kuburnya disiapkan seekor ular naga yang bernama si naga botak; kedua matanya berupa api dan kuku-kukunya dari besi yang panjangnya ditempuh dalam perjalanan selama sehari. Dia berbicara kepada mayit, "Akulah si naga botak!" Suaranya menggelegar bagaikan halilintar yang menyambar. Dia juga mengatakan, "Aku disuruh oleh Rabbku untuk memukulmu karena kamu menyia-nyiakan shalat shubuh hingga terbit matahari. Juga agar memukulmu karena menyia-nyiakan shalat zuhur hingga tiba waktu asar. Juga agar memukulmu karena menyia-nyiakan shalat asar hingga tiba waktu maghrib. Juga agar memukulmu karena menyia-nyiakan shalat maghrib hingga tiba waktu isya`, dan juga agar memukulmu karena menyia-nyiakan shalat isya` hingga tiba waktu shubuh." Maka tiap kali dia memukulnya sekali pukulan, orang itu pun terbenam ke dalam bumi sedalam 70 hasta, dan tidak henti-hentinya dia disiksa di dalam bumi hingga hari kiamat.
Adapun 3 yang menimpanya saat keluar dari kuburan di padang mahsyar yaitu: penghitungan amal secara keras, dimurkai oleh Rabb, dan pasti masuk ke dalam neraka.

• Keterangan:
Hadits ini disampaikan di sebuah masjid di Solo pada hari Jum'at yang lalu (jum'at kedua bulan Nopember 2008) tanpa diberikan penjelasan mengenai derajat hadits ini, padahal:
1. Dalam sanadnya terdapat rawi bernama Muhammad bin 'Ali al-'Abbas al-Baghdadi al-'Aththar, kata Dzahabi: "Dia menisbatkan kepada Abu Bakr bin Ziyad an-Naisaburi sebuah hadits yang batil mengenai orang yang meninggalkan shalat." Maksudnya hadits ini. (al-Mizan 3/653)
2. Ibnu Hajar menulis, "Hadits ini jelas batilnya; termasuk hadits-hadits thuruqiyah." (Lisanul Mizan 5/295)
3. Syaikh Hilmi Rasyidi menulis, "Aku sama sekali tidak mendapatkan sanad untuk hadits ini, dan hadits ini disebutkan oleh Ibnu Hajar al-Haitsami dalam az-Zawajir 1/136 dengan malu-malu. (Footnote al-Kaba`ir halaman 25)


Surga di Bawah Telapak
Kaki Ibu

• Lafal Hadits:

" الجنة تحت أقدام الأمهات ، من شئن أدخلن ، و من شئن أخرجن "
Surga itu di bawah telapak kaki ibu; mereka memasukkan siapa saja yang mereka inginkan, dan mengeluarkan siapa pun yang mereka inginkan pula.

• Keterangan:
Hadits ini populer di atas mimbar-mimbar orang tak berilmu, padahal:
1. Hadits ini palsu.
2. Periwayatnya adalah rawi pengibul bernama Musa bin Muhammad (atau Musa bin 'Atha`  Musa bin Muhammad bin 'Atha`) ad-Dimyathi al-al-Maqdesi. Kata Abu Hatim, dia biasa berdusta dan membawakan hadits-hadits batil. Kata Ibnu Hibban, dia biasa memalsukan hadits atas nama rawi-rawi tsiqat dan menisbatkan dari orang-orang terpercaya beberapa hadits yang tidak ada asalnya.
3. Syaikh Hilmi Rasyidi menulis, "Hadits dengan lafal ini tidak memiliki asal, meskipun sangat tenar di kalangan orang awam dan para khatib. Namun hadits ini shahih dengan lafal lainnya." (Footnote al-Kaba`ir halaman 45)
4. Para khatib tidak perlu ikut-ikutan mengibul dengan membawakan hadits palsu ini lalu menyandarkannya kepada Rasulullah saw, sebab ada hadits lain yang maknanya semisal dan sanadnya hasan, yaitu:
عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ جَاهِمَةَ السَّلَمِيِّ أَنَّ جَاهِمَةَ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَدْتُ أَنْ أَغْزُوَ وَقَدْ جِئْتُ أَسْتَشِيرُكَ فَقَالَ هَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَالْزَمْهَا فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا.
Dari Mu'awiyah bin Jahimah as-Salami, bahwa Jahimah datang kepada Nabi saw lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, aku ingin berperang, dan saat ini aku meminta musyawarah dari Anda." Beliau bertanya, "Masih hidupkah ibu Anda?" Dia menjawab, "Ya." Beliau menasihatkan, "Lazimilah ibumu, sebab jannah ada di bawah kedua kakinya." HR Nasa`I 2/54, Ahmad 3/429, Ibnu Majah nomor 2781, dan Thabarani. (Lihat ash-Shahihah 1248-1249 dan al-Irwa` 1199)
Hadits ini dishahihkan oleh Hakim (4/151), Dzahabi, dan Mundziri (at-Targhib 3/214  Lihat adh-Dha'ifah 593).


Kisah 'Alqamah dan Ibunya

• Lafal Hadits:

" إن سخط أم علقمة حجب لسان علقمة عن الشهادة. ثم قال يا بلال انطلق واجمع لي حطباً كثيراً. قالت يا رسول الله وما تصنع قال: " أحرقه بالنار بين يديك " قالت: يا رسول الله ولدي لا يحتمل قلبي أن تحرقه بالنار بين يدي.
"Sesungguhnya kemurkaan ibu 'Alqamah menyebabkan lisan 'Alqamah tidak dapat mengucapkan kalimat syahadat." Kemudian beliau bersabda kepada Bilal, "Hai Bilal, pergilan dan kumpulkan kayu bakar yang banyak." Ibu 'Alqamah bertanya, "Wahai Rasulullah apa yang hendak Anda lakukan?" Beliau menjawab, "Akan kubakar putramu dengan api di hadapanmu." Dia berkata, "Wahai Rasulullah, dia anakku, hatiku takkan mampu menerima pembakaran anakku dengan api di hadapanku." … dst.

• Kisah 'Alqamah:
'Alqamah adalah seorang sahabat Nabi saw yang ahli ibadah. Setelah dia menikah, ibunya terlupakan olehnya karena lebih mencintai istrinya daripada ibunya. Ibunya pun marah, dan hatinya selalu dongkol kepada 'Alqamah.
Saat 'Alqamah hampir mati, istrinya memberitahu Rasulullah saw. Beliau pun mengirim beberapa sahabat beliau untuk menalkininya kalimat Lâ ilâha illallâh, namun ternyata lidahnya kelu dan sama sekali tidak mampu mengucapkan kalimat syahadat tersebut.
Rasulullah saw bertanya, "Apakah kedua orang tuanya masih hidup?" Ada yang menjawab, "Ibunya sudah sangat renta wahai Rasulullah." Rasulullah saw mengirim utusan kepada ibunya dan mengatakan, "Katakan kepada ibunya, bila dia mampu silakan datang kepadaku, dan bila tidak maka silakan tetap di rumah dan aku yang akan pergi menjumpainya."
Ibunya menjawab, "Sungguh aku lebih berhak untuk datang ke rumah Rasulullah saw." Setelah mengucapkan salam, maka Rasulullah saw bertanya kepadanya, "Wahai ibunda 'Alqamah, jujurlah kepadaku, sebab bila Anda tidak jujur pasti akan turun wahyu dari langit. Bagaimana kondisi putra Anda 'Alqamah?" Dia menjawab, "Sunnguh wahai Rasulullah, dia orang yang banyak melakukan shalat, puasa, dan gemar bersedekah."
"Bagaimana sikap Anda terhadapnya?" Jawabnya: "Aku sungguh murka kepadanya." "Mengapa?" Jawabnya: "Dia mendahulukan istrinya dan durhaka kepadaku." Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya kemurkaan ibu 'Alqamah inilah yang menyebabkan lisannya tidak dapat mengucapkan kalimat syahadat."
Kemudian beliau bersabda kepada Bilal, "Hai Bilal, pergilan dan kumpulkan kayu bakar yang banyak." Ibu 'Alqamah bertanya, "Wahai Rasulullah apa yang hendak Anda lakukan?" Beliau menjawab, "Akan kubakar putramu dengan api di hadapanmu." Dia berkata, "Wahai Rasulullah, dia anakku, hatiku takkan mampu menerima pembakaran anakku dengan api di hadapanku."
Rasulullah saw bersabda, "Hai ibunda 'Alqamah, sungguh siksaan dari Alloh lebih dahsyat dan pedih. Bila Anda inginkan Alloh mengampuninya, maka relakanlah hati Anda kepada 'Alqamah. Sungguh demi Alloh, 'Alqamah tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari shalat, puasa, dan sedekahnya selama Anda masih murka kepadanya."
Ibunya menjawab, "Wahai Rasulullah, aku persaksikan kepada Alloh, malaikat-Nya, dan semua muslimin yang hadir di sini, bahwa aku sudah rela kepada putraku 'Alqamah. " Rasulullah saw berkata kepada Bilal ra, "Lihatlah sekarang, apakah dia sudah bisa mengucapkan kalimat tahlil? Barangkali ibunya mengatakan sesuatu yang tidak dari lubuh hatinya karena malu kepadaku."
Bilal menengok, dan ternyata dia dengar 'Alqamah dapat mengucapkan kalimat tahlil. Bilal ra berteriak, "Wahai orang-orang! Sungguh kemurkaan ibunda 'Alqamah mengekang lisannya dari kalimat syahadat! Sungguh kerelaan hati ibundanya melepaskan lisannya sehingga bisa mengucapkan syahadat."
Pada hari itu 'Alqamah mati, dan Rasulullah saw menyuruh agar dia dimandikan dan dikafani, lalu beliau menyalati jenazahnya. Saat dikubur, Rasulullah saw memberikan wejangan kepada kaum muhajirin dan anshar mengenai bahaya dan ancaman bagi lelaki yang mendahulukan istrinya daripada ibunya. (Kisah palsu selesai)

• Keterangan:
Hadits ini cukup populer, dan pernah disampaikan di masjid pondok pesantren al-Mukmin Ngruki pada khutbah Jum'at. Sungguh mengecewakan, karena saat itu tidak ada yang mengingkarinya dan khatib tidak menjelaskan kedudukan hadits tersebut, padahal:
1. Kisah 'Alqamah adalah kisah palsu.
2. Ibnul Jauzi menulis, "Hadits ini tidak shahih. Dalam sanadnya terdapat Fa`id, seorang rawi matrukul hadits. Juga Dawud bin Ibrahim yang biasa berdusta." (al-Maudhu'at 3/87)
3. Syaikh Hilmi Rasyidi menulis, "Aku tidak menemukan siapa sebenarnya 'Alqamah yang disebutkan dalam kisah tersebut. 'Alqamah ini tidak saya dapatkan biografinya dalam kitab-kitab rijal maupun kitab-kitab biografi, bahkan juga tidak kuketemukan ada satu pun 'Alqamah yang mati di saat Rasulullah saw masih hidup. Kebanyakan 'Alqamah yang ada, mati pada penaklukan Mesir dan penaklukan-penaklukan lainnya, sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu 'Abdil Barr dalam al-Isti'ab dan Ibnu Hajar dalam al-Ishabah." (Footnote al-Kaba`ir halaman 49)
4. Perhatian! Kisah ini memang disebutkan oleh adz-Dzahabi dalam al-Kaba`ir, namun perlu ditegaskan bahwa beliau juga memuatnya dalam al-Mizan dan menilai batil kisah ini. Beliau memasukkan banyak hadits dha'if bahkan palsu dalam kitabnya al-Kaba`ir, karena saat itu masih banyak orang yang mengetahui mana hadits palsu dan mana hadits shahih. Akan tetapi di masa sekarang ini, betapa banyak khatib yang membawakan kisah palsu ini di atas mimbar-mimbar dan berbagai majlis pelajaran, tanpa menyebutkan bahwa hadits ini palsu. Allâhul Musta'ân. (lihat Footnote al-Kaba`ir halaman 49)


Bahaya Zina

• Lafal Hadits:

يا معشر المسلمين اتقوا الزنا فإن فيه ست خصال: ثلاث في الدنيا وثلاث في الآخرة. فأما التي في الدنيا: فذهاب بهاء الوجه وقصر العمر ودوام الفقر. وأما التي في الآخرة: فسخط الله تبارك وتعالى وسوء الحساب والعذاب بالنار.
"Wahai segenap muslimin, waspadailah zina sebab di dalamnya terdapat 6 hal; 3 di dunia dan 3 lainnya di akhirat. Adapun yang di dunia yaitu: 1) Hilangnya keindahan wajah, 2) usia yang pendek, 3) senantiasa fakir. Adapun yang di akhirat yaitu: 1) kemurkaan Alloh Tabaraka wa Ta'ala, 2) hisab yang buruk, 3) siksaan api neraka." HR Baihaqi dalam Syu'abul Iman.

• Keterangan:
1. Hadits ini wâhin (lemah).
2. Dalam sanadnya terdapat Maslamah bin 'Ali al-Khasyin, seorang rawi yang sangat lemah, bahkan ada dikatakan bahwa dia mungkarul hadits dan matruk. (lihat Footnote al-Kaba`ir halaman 56)

Kebusukan Memandangi Lawan Jenis

• Lafal Hadits:

روي أن وفد عبد القيس لما قدموا على النبي صلى الله عليه وسلم كان فيهم أمرد حسن فأجلسه النبي صلى الله عليه وسلم خلف ظهره وقال: إنما كانت فتنة داود عليه السلام من النظر. (الكبائر ص 62)
Diriwayatkan bahwa tamu dari Suku 'Abdil Qais saat datang bertamau kepada Nabi saw, ada di antara mereka seorang anak muda yang cakep, lalu Nabi saw mendudukkan anak ini di belakang punggung beliau dan menjelaskan, "Tiada lain fitnah yang menimpa Nabi Dawud as adalah fitnah memangdang."
النظر سهم مسموم من سهام إبليس فمن تركه لله أورث الله قلبه حلاوة عبادة يجدها إلى يوم القيامة.
Memandang (lawan jenis) merupakan anak panah beracun dari Iblis. Siapapun yang meninggalkannya karena Alloh, pastilah Alloh berkenan memasukkan dalam hatinya kemanisan beribadah hingga hari kiamat.

• Keterangan:
Kisah mengenai ujian yang menimpa Nabi Dawud as cukup populer, tidak kurang Tafsir Jalalain ikut mempublikasikannya tanpa menggarisbawahi bahwa kisah tersebut hanyalah buatan kaum Bani Israil, dan segala hadits mengenai hal itu berkisar antara palsu dan dha'if. Adapun hadits di atas adalah:
1. Hadits pertama adalah hadits palsu, sedangkan hadits kedua adalah hadits dha'if dan mudhtharib.
2. Tentang hadits pertama, Ibnu Shalah menulis, "Tidak ada asalnya." Zarkasyi menulis, "Hadits mungkar; di dalamnya terdapat rawi-rawi yang dha'if dan tak dikenal, dan sanadnya terputus." Zarkasyi mengemukakan alasan untuk kebatilan hadits ini dengan adanya hadits shahih: "Sesungguhnya aku (Rasulullah saw) dapat melihat kalian dari balik punggungku."
3. Penjelasan panjang lebar mengenai kebatilan kisah fitnah yang menimpa Nabi Dawud as silakan lihat pada tahqiq Syaikh Hilmi Rasyidi untuk kitab Talbis Iblis (cetakan Darul 'Aqidah) karya Syaikh Ibnul Jauzi. Atau ta'liq untuk tafsir al-Mawardi oleh Syaikh 'Abdul Maqshud bin 'Abdir Rahim. (Lihat: Footnote al-Kaba`ir halaman 62)


DAFTAR ISI

GALAU HATI KAMI …
1. Jihad Kecil dan Jihad Besar …
2. Dosa Membunuh Mukmin …
3. Shalat di Awal Waktu dan di Luar Waktu …
4. Ancaman Keras Bila Meninggalkan/Meremehkan Shalat
5. Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu …
- Kisah 'Alqamah dan Ibunya …
6. Bahaya Zina …
7. Kebusukan Memandangi Lawan Jenis …
Daftar Isi …
Daftar Beberapa Hadits Dha'if dan Palsu …
DAFTAR BEBERAPA HADITS DHA'IF & PALSU

إِذَا صَلَّى الْعَبْدُ الصَّلاَةَ فِي أَوَّلِ الْوَقْتِ صَعِدَتْ إِلَى السَّمَاءِ وَ لَهَا نُورٌ .... (ضعيف)
أَصْحَابِي كَالنُّجُومِ، بِأَيِّهِمُ اقْتَدَيْتُمُ اهْتَدَيْتُمْ. (موضوع: الضعيفة 58)
إن سخط أم علقمة حجب لسان علقمة عن الشهادة. (موضوع)
إن من حافظ على الصلوات المكتوبة أكرمه الله تعالى بخمس كرامات .... (لا أصل له)
أَنَا دَارُ الْحِكْمَةِ وَ عَلِىٌّ بَابُهَا. (الموضوعات 1/349)
إنما كانت فتنة داود عليه السلام من النظر. (موضوع)
الجنة تحت أقدام الأمهات ، من شئن أدخلن ، و من شئن أخرجن. (لا أصل له بهذا اللفظ)
حُبُّ الْوَطَنِ مِنَ اْلإِيْمَانِ. (موضوع: الضعيفة 36)
رَجَعْناَ مِنَ الْجِهَادِ اْلأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ اْلأَكْبَرِ. (منكر)
الْعِلْمُ خَزَائِنُ وَ مِفْتَاحُهَا السُّؤَالُ. (موضوع: الضعيفة 278)
قَدِمْتُمْ خَيْرَ مَقْدَمٍ ، قَدِمْتُمْ مِنَ الْجِهَادِ اْلأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ اْلأَكْبَرِ: مُجَاهَدَةُ الْعَبْدِ هَوَاهُ. (ض)
مَلْعُونٌ عَلَى لِسَانِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم مَنْ جَلَسَ وَسْطَ الْحَلْقَةِ. (ضعيف الرياض 834)
مَنْ أَعَانَ عَلَى قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِشَطْرِ كَلِمَةٍ لَقِيَ اللَّهَ مَكْتُوبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ آيِسٌ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ. (ضعيف)
النَّظَافَةُ مِنَ اْلإِيْمَانِ. (ليس بحديث)
النظر سهم مسموم من سهام إبليس فمن تركه لله أورث الله قلبه حلاوة عبادة .... (ضعيف)
وَسِّطُوا اْلإِمَامَ. (ضعيف الرياض 1103)
يا معشر المسلمين اتقوا الزنا فإن فيه ست خصال .... (واهٍ = ضعيف)

Nantikan edisi-edisi berikutnya.
Edisi sebelum buku ini berjudul: Hadits-hadits Dha'if Berkeliaran di Sekitar Anda.

posted under |

0 komentar:

Poskan Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

(PILIHLAH JAWABAN YANG BENAR) 2 x 2 : 2 + 2 - 2 = ...

Sociable

Followers


Recent Comments